Konsep Capra mengenai Ekoliterasi dan Ekodesain

View this post on Instagram

Haii Environment,, Kita belajar yuk tentang konsep fritjof capra, mengenai ekoliterasi dan ekodesain untuk menuju ke zero weste. Sebelumnya kalian udah tau belum siapa sih fritjof capra itu. Hmm ni ku kasih tau ya. Fritjof capra adalah seorang filosof, ia merupakan pendiri dari pusat ekoliterasi di Berkeley, California. Ekoliterasi atau melek ekologi adalah sebuah istilah yang digunakan oleh capra, untuk menggambarkan tingkat kesadaran manusia yang paling tinggi, yakni menghargai lingkungan hidup (ekosistem). Menurut Capra, masa depan manusia bergantung pada kesadaran ekoliterasi. Upaya menuju melek ekologi harus diperkuat melalui kampanye dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga alam sekitar. Dalam mengolah sampah pun capra membuat suatu solusi, yaitu ekodesain. Ekodesain adalah upaya perancangan ulang teknologi dan institusi sosial secara mendasar, untuk menjembatani celah antara desain manusia dan sistem-sistem alam yang berkelanjutan secara ekologis. Prinsip pertama ekodesain adalah “sampah sama dengan makanan”. Dapat dimaksudkan sebagai segala produk yang diolah industri, juga sampah yang dihasilkan dalam proses pembuatannya, pada akhirnya harus menjadi bahan bagi sesuatu yang lain. Prinsip ini sejalan dengan prinsip ekologi tentang siklus, bahwa semua organisme hidup akan terus menerus menghasilkan sampah, akan tetapi sampah satu species akan menjadi makanan bagi species yang lain. Dari kedua hal tersebut semua bertujuan untuk menciptakan zero waste atau bebas sampah. Dimana tidak ada sampah yang menuju ke TPA, sampah bisa dikelolah kembali seperti konsep dari ekodesain dan pastinya dapat berguna baik bagi manusia ataupun makhluk hidup lain. Ada pula metode yang dapat kita lakukan yakni 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang) dan Rot (membusukkan sampah). 5R ini menjadi pegangan untuk kita membentuk gaya hidup tanpa sampah. Nah sampai disini kalian udah paham belum betapa pentingnya kita menjaga lingkungan, ingatlah hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bagi lingkungan disekitar kita.

A post shared by Pengembangan Ekosistem UP45 (@tatakawasanup45) on

Haii Environment,,
Kita belajar yuk tentang konsep Fritjof Capra, mengenai ekoliterasi dan ekodesain untuk menuju ke zero weste.

Sebelumnya kalian udah tau belum siapa sih Fritjof Capra itu. Hmm ni ku kasih tau ya. Fritjof capra adalah seorang filosof, ia merupakan pendiri dari pusat ekoliterasi di Berkeley, California.
Ekoliterasi atau melek ekologi adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Capra, untuk menggambarkan tingkat kesadaran manusia yang paling tinggi, yakni menghargai lingkungan hidup (ekosistem).

Menurut Capra, masa depan manusia bergantung pada kesadaran ekoliterasi. Upaya menuju melek ekologi harus diperkuat melalui kampanye dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga alam sekitar.
Dalam mengolah sampah pun Capra membuat suatu solusi, yaitu ekodesain. Ekodesain adalah upaya perancangan ulang teknologi dan institusi sosial secara mendasar, untuk menjembatani celah antara desain manusia dan sistem-sistem alam yang berkelanjutan secara ekologis. Prinsip pertama ekodesain adalah “sampah sama dengan makanan”. Dapat dimaksudkan sebagai segala produk yang diolah industri, juga sampah yang dihasilkan dalam proses pembuatannya, pada akhirnya harus menjadi bahan bagi sesuatu yang lain.

Prinsip ini sejalan dengan prinsip ekologi tentang siklus, bahwa semua organisme hidup akan terus menerus menghasilkan sampah, akan tetapi sampah satu species akan menjadi makanan bagi species yang lain.

Dari kedua hal tersebut semua bertujuan untuk menciptakan zero waste atau bebas sampah. Dimana tidak ada sampah yang menuju ke TPA, sampah bisa dikelola kembali seperti konsep dari ekodesain dan pastinya dapat berguna baik bagi manusia ataupun makhluk hidup lain.
Ada pula metode yang dapat kita lakukan yakni 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang) dan Rot (membusukkan sampah). 5R ini menjadi pegangan untuk kita membentuk gaya hidup tanpa sampah.

Nah sampai disini kalian udah paham belum betapa pentingnya kita menjaga lingkungan, ingatlah hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bagi lingkungan disekitar kita.